<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Serasan's Blog</title>
	<atom:link href="http://serasan2a.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://serasan2a.wordpress.com</link>
	<description>Suara Dari Serasan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 05 Nov 2009 09:52:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='serasan2a.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Serasan's Blog</title>
		<link>http://serasan2a.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://serasan2a.wordpress.com/osd.xml" title="Serasan&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://serasan2a.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Bukit Siamang</title>
		<link>http://serasan2a.wordpress.com/2009/11/05/17/</link>
		<comments>http://serasan2a.wordpress.com/2009/11/05/17/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Nov 2009 09:40:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serasan2a.wordpress.com/2009/11/05/17/</guid>
		<description><![CDATA[     Dari jauh Bukit Siamang yang berada agak di pinggir kota itu tampak seperti terbelah. Dari dekat ternyata belahan itu adalah sebuah jalan sangat lebar yang sengaja dibangun untuk kendaraan naik ke atas. Dua buah buldoser telah bekerja berminggu-minggu membangun jalan itu. Rencananya di atas bukit itu akan dibangun sebuah komplek perumahan elit termahal di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serasan2a.wordpress.com&amp;blog=4257750&amp;post=17&amp;subd=serasan2a&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>     Dari jauh Bukit Siamang yang berada agak di pinggir kota itu tampak seperti terbelah. Dari dekat ternyata belahan itu adalah sebuah jalan sangat lebar yang sengaja dibangun untuk kendaraan naik ke atas. Dua buah buldoser telah bekerja berminggu-minggu membangun jalan itu. Rencananya di atas bukit itu akan dibangun sebuah komplek perumahan elit termahal di kota. Awalnya ramai di surat kabar orang berkomentar soal proyek itu. Selain akan merusak keindahan, proyek itu juga akan merusak ekosistem kota. Banyak yang meminta agar proyek itu tidak dilanjutkan. Bahkan anggota dewan berjanji akan menyelidiki masalah itu. Tetapi itu cerita di atas-atas. Yang merasakan langsung dampak proyek itu adalah warga Tanjung, sebuah kampung yang terletak di kaki bukit itu.<span id="more-17"></span></div>
<div>***</div>
<div>     Mula-mula adalah suara bising mesin buldoser yang bekerja siang malam. Suara itu terasa begitu mengganggu kalau malam tiba, saatnya orang beranjak tidur. Tapi saat itu warga hanya bisa menggerutu. Persoalan itu masih dianggap sepele untuk dipersoalkan.</div>
<div>     Persoalan menjadi lain setelah beberapa bulan proyek berjalan air sumur umum yang digunakan warga untuk keperluan sehari-hari perlahan berubah warna. Air yang biasanya berwarna bening itu kini berubah menjadi putih susu, dan bila hujan turun warnanya berubah coklat. Kali ini warga mulai marah. Ada yang mengajak beramai-ramai ke atas memblokir lokasi proyek. Ada pula yang mengajak berunjuk rasa ke walikota menuntut agar proyek itu dihentikan. Di antara yang bersuara paling keras adalah Pak Kohar. Ia mengajak warga untuk memperjuangkan hak-hak mereka yang telah dirugikan. Tapi ia juga mengingatkan agar warga berhati-hati. “Proyek itu proyek besar, pasti dibeking pejabat dan aparat,” kata Pak Kohar, dalam rapat yang diadakan warga. Panjang lebar ia menjelaskan semua yang diketahuinya tentang proyek itu. Singkatnya, dari pada melawan hasilnya sia-sia, lebih baik berunding untuk meminta ganti rugi.</div>
<div>     Pak Kohar yang calo tanah itu amat pandai berbicara. Warga akhirnya menerima usul Pak Kohar. Mereka sepakat untuk menuntut perusahaan yang menjalankan proyek itu agar menyediakan instalasi air bersih sebagai pengganti sumur umum yang rusak. Selain itu mereka juga ingin agar dibangun saluran air yang mengarah ke sisi lain bukit, sehingga bila turun hujan deras kampung mereka akan terlindung dari ancaman banjir.</div>
<div>     Tuntutan itu lalu diajukan ke perusahaan esok harinya. Pak Kohar yang datang bertemu langsung dengan sang bos. Entah bagaimana cara Pak Kohar berunding, ketika pulang ia melaporkan perusahaan bersedia memenuhi tuntutan warga. Tak lupa ia menghimbau warga agar tak resah lagi karena tuntutan mereka telah disetujui.</div>
<div>Warga lega. Tapi kelegaan itu rupanya tak berlangsung lama. Mereka kecewa, instalasi air sudah dibangun tapi saluran air tidak. Ketika hal itu ditanyakan kepada Pak Kohar ia menjawab, saluran air itu sedang dicari di mana lokasinya yang tepat. “Bukan tidak dibangun, tapi belum dibangun. Tunggu saja,” begitu kata Pak Kohar menjelaskan.</div>
<div>***</div>
<div>     Sebenarnya banyak warga yang merasa kehilangan ketika Bukit Siamang digusur. Bukit yang luas itu adalah tempat warga biasa berekreasi melepas penat pikiran. Anak-anak amat senang naik ke bukit itu. Di situ mereka dapat mencari buah-buahan, mangga, pisang, rambutan, dan jambu mede. Sembari makan buah-buahan mereka beristirahat menikmati pemandangan. Pemandangan dari atas bukit itu memang indah. Dari bukit itu orang bisa memandang jauh ke penjuru kota. Sementara pada salah satu sisinya laut biru teluk kota itu terbentang indah. Tetapi pemandangan indah itulah yang kini menjadi sebab bukit itu digusur. Ada pengusaha berotak jeli yang melihat bukit itu tak lain adalah uang. Perumahan yang dibangun di bukit itu pasti laku dijual. Sementara hancuran batu, pasir dan tanah hasil penggusuran dapat digunakan untuk mereklamasi pantai. Dan lahan hasil reklamasi itupun nantinya pasti laku dijual. Begitulah bagaimana uang bekerja merusak bukit itu. Dan yang menjadi korban adalah warga Tanjung.</div>
<div>***</div>
<div>     Ketika saluran air tak juga dibangun warga menjadi resah. Musim hujan akan segera tiba, dan proyek di bukit itu bisa membawa bencana. Sementara Pak Kohar yang dulu keras kini sikapnya tampak berubah. Setiap kali warga bertanya soal saluran air ia selalu meminta warga bersabar. Warga merasa curiga pada Pak Kohar. Ada kabar Pak Kohar kini ikut bekerja di proyek itu. Keresahan warga terbukti. Saat hujan pertama di musim itu turun dengan derasnya Kampung Tanjung dilanda banjir. Gundukan pasir di atas bukit longsor. Longsoran itu memenuhi selokan air di kaki bukit. Air yang tak tertampung lalu keluar memasuki rumah-rumah warga. Air itu berwarna coklat mengandung lumpur. Kali ini amarah warga tak dapat ditahan. Warga yang sebagian besar anak-anak muda beramai-ramai naik ke atas setelah hujan berhenti.</div>
<div>     Tetapi warga terkejut, di atas di depan kantor pengawas sejumlah aparat bersenjata sudah siap berjaga-jaga. Perusahaan tampaknya punya mata-mata di Kampung Tanjung. Pimpinan para aparat itu memperingatkan warga agar tidak bertindak anarkis. Mereka tak ragu akan bersikap tegas.</div>
<div>     “Bapak-bapak jangan membela pengusaha. Apakah Bapak tidak meihat kampung kami kebanjiran,” kata Bondan, anak muda yang memimpin warga.</div>
<div>    “Kami tidak membela siapa-siapa. Kami hanya menjaga supaya tidak terjadi perusakan,” jawab pimpinan aparat.</div>
<div>    “Jadi Bapak menuduh kami merusak? Perusahaan inilah yang merusak. Perusahaan merusak bukit ini. Perusahaan merusak kampung kami. Kami hanya meminta pertanggungjawaban.”</div>
<div>     Bondan, anak muda yang memimpin warga Tanjung itu memang dikenal pemberani. Ketika yang lain hilang keberaniannya setelah melihat aparat bersenjata itu, Bondan dengan gagah tetap melawan. Dengan nada tinggi ia memaki-maki perusahaan yang sudah merusak bukit itu.</div>
<div>    Salah seorang karyawan perusahaan datang mendekati Bondan. Bersama pimpinan aparat mereka berbicara sebentar. Mereka lalu menuju kantor pengawas. Ketika keluar Bondan menjelaskan besok ia akan bertemu dengan pemilik perusahaan untuk berunding soal saluran air itu. Lalu ia mengajak warga turun. Warga akhirnya beramai-ramai turun, meski hati mereka belum merasa puas.</div>
<div>***</div>
<div>     Begitulah selalu terjadi. Warga sebenarnya tak pernah puas dengan proyek itu. Proyek di bukit itu menghadirkan banyak masalah bagi warga. Satu masalah selesai muncul masalah baru. Dan yang menyesakkan setiap masalah baru melahirkan pahlawan-pahlawan baru, yang para pahlawan itu kemudian berubah menjadi penghianat baru.<br />
Sama seperti Pak Kohar, Bondanpun kemudian berubah sikap menjadi layaknya juru bicara proyek. Sikapnya yang dahulu garang kemudian entah hilang ke mana. Setiap kali muncul keluhan baru ia selalu minta agar warga bersabar. Dijelaskannya bagaimana mungkin melawan perusahaan yang jelas-jelas dilindungi aparat itu. “Nyawa kita taruhannya,” katanya menggambarkan besarnya resiko yang dihadapi.<br />
Pada akhirnya warga lelah. Beberapa tokoh yang punya pengaruh sudah pula dibeli. Setiap bulan mereka memperoleh upeti dari perusahaan. Para tokoh itu lalu menjadi jubir-jubir baru. Tersebar di masyarakat perusahaan akan memberikan bantuan untuk sarana ibadah dan sarana olah raga bagi pemuda. Juga janji pekerjaan diberikan kepada para pemuda jika komplek perumahan itu sudah selesai dibangun. Ketika masalah-masalah baru bermunculan warga sudah malas mengurusnya. Yang menjadi musuh kini bukan lagi perusahaan, tetapi sesama warga sendiri, tetangga mereka sendiri. Begitulah yang terjadi di Kampung Tanjung.</div>
<div>***</div>
<div>Bukit itu dinamakan Bukit Siamang karena dahulu bukit itu merupakan tempat hidup siamang. Menurut orang-orang tua dulu siamang di bukit itu ibarat buah-buahan di pohon, saking banyaknya. Kalau siamang-siamang itu sedang berteriak-teriak ributnya bukan main. Di bukit itulah buldoser-buldoser terus bekerja merangsek ke sana-sini. Bertahun-tahun buldoser itu bekerja menghancurkan bebatuan meratakan bukit. Hancuran batu, pasir dan tanah yang dihasilkan lalu diangkut oleh puluhan truk untuk keperluan reklamasi. Jika hujan turun truk-truk itu meninggalkan bekas lumpur pada sepanjang jalan yang dilaluinya. Pengendara sepeda motor harus berhati-hati karena lumpur itu licin. Jika cuaca panas para pengendara itupun tetap harus berhati-hati. Panas mengubah lumpur jadi debu. Pengendara motor harus menjaga matanya agar tak kemasukan debu.<br />
Setelah berjalan lima tahun proyek pembangunan perumahan itu akhirnya selesai. Dari jauh bukit itu kini terlihat cantik, tak tampak lagi bekas-bekas penggusuran. Kalau kita naik ke atas kita akan melihat sebuah komplek perumahan mewah bernama Kemang Hill Residence. Di komplek itu juga dibangun hotel, rumah makan dan cafe yang menghadap ke laut. Nama Kemang adalah perubahan dari kata Siamang. Tetapi warga Kampung Tanjung dengan sinis menyebut komplek perumahan itu sebagai Siamang Residence.<br />
Karena dinilai tidak memenuhi syarat akhirnya hanya beberapa orang warga Kampung Tanjung yang diterima sebagai pekerja di komplek perumahan itu. Di antaranya adalah Pak Kohar dan Bondan. Tiap hari warga melihat Pak Kohar dan Bondan berangkat kerja. Kalau mereka lewat orang-orang berbisik, ”Karyawan Siamang lewat, karyawan Siamang lewat.” Siamang ribut kalau lapar. Kalau sudah kenyang ia akan diam.</div>
<div>*****</div>
<div>Ahmad, November 2009</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/serasan2a.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/serasan2a.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/serasan2a.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/serasan2a.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/serasan2a.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/serasan2a.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/serasan2a.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/serasan2a.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/serasan2a.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/serasan2a.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/serasan2a.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/serasan2a.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/serasan2a.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/serasan2a.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serasan2a.wordpress.com&amp;blog=4257750&amp;post=17&amp;subd=serasan2a&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serasan2a.wordpress.com/2009/11/05/17/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f56338c61570e3ae257c7eb7ca5c07b8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ahmad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Paman Julian</title>
		<link>http://serasan2a.wordpress.com/2009/10/22/paman-julian/</link>
		<comments>http://serasan2a.wordpress.com/2009/10/22/paman-julian/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 06:57:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serasan2a.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[       Setelah menempuh perjalanan selama hampir satu hari dari Lampung, sampailah aku di rumah Paman Julian di Magelang. Rumah Paman Julian terletak di pinggiran kota, sebuah rumah sederhana namun asri dengan halamannya yang luas.      “Apa kabar lelaki gagah?” kata Paman Julian gembira menyambutku.      “Alhamdulillah sehat, Paman. Paman sendiri bagaimana?”      “Seperti kau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serasan2a.wordpress.com&amp;blog=4257750&amp;post=3&amp;subd=serasan2a&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;"> </p>
<p style="text-align:left;">     Setelah menempuh perjalanan selama hampir satu hari dari Lampung, sampailah aku di rumah Paman Julian di Magelang. Rumah Paman Julian terletak di pinggiran kota, sebuah rumah sederhana namun asri dengan halamannya yang luas.<br />
     “Apa kabar lelaki gagah?” kata Paman Julian gembira menyambutku.<br />
     “Alhamdulillah sehat, Paman. Paman sendiri bagaimana?”<br />
     “Seperti kau lihat inilah,” kata Paman tertawa. Lalu dipandanginya aku seraya menggeleng-gelengkan kepala, seolah ingin mengatakan bahwa aku sudah banyak berubah. Aku hanya tertawa kecil saja.<span id="more-3"></span><br />
     Rumah Paman Julian walau sederhana tergolong besar. Ketika aku memasukinya di beberapa ruangan terpajang lukisan-lukisan hasil karya Paman. Rumah Paman ini memang sekaligus berfungsi sebagai galeri lukis. Di salah satu ruangan aku sempat  berhenti lama. Ruangan itu rupanya khusus untuk menyimpan lukisan yang bertema perempuan. Perempuan yang menjadi model lukisan-lukisan itu adalah seorang perempuan berwajah manis dengan rambutnya yang panjang sampai ke punggung. Lama aku memandangi lukisan-lukisan itu, sampai tiba-tiba kudengar suara Paman.<br />
    “Bagaimana menurutmu rumah Paman ini? Baru kali ini kan kau kemari?” tanyanya tersenyum.<br />
     “Ya, Paman,” sahutku. Lalu kupandangi wajah Paman. Sorot matanya yang lembut hangat. Rambutnya yang lebat, dengan bekas cukuran menghiasi pipi dan dagunya.<br />
     “Sebenarnya menurut Henry ada yang kurang dari rumah ini, Paman,” kataku.<br />
     “Oya? Coba katakan apa itu, Henry.”<br />
     “Perempuan, Paman. Perempuan yang menjadi istri Paman, dan anak-anak.”<br />
     Paman Julian sejenak tercenung memandangku. Tapi kemudian ia tertawa mendengar kata-kataku itu.<br />
***<br />
     Paman Julian adalah adik ibu yang sudah dua puluh tahun lebih meninggalkan Lampung dan menetap di Jawa. Mulanya ia datang untuk kuliah seni rupa di Yogya. Namun setelah studinya selesai rupanya ia tak ingin kembali ke Lampung. Katanya ia  merasa cocok hidup di Jawa. Untuk itu ia sempat beberapa kali berpindah tempat sebelum akhirnya menetap di pinggiran Magelang ini, hidup sebagai petani dan pelukis.<br />
     Yang menarik pada diri Paman Julian adalah kehidupannya yang membujang. Pada umurnya yang sekitar empat puluh ini Paman belum menikah. Dari yang kudengar Paman belum menikah karena ia tak bisa menghapus cintanya yang sangat dalam pada gadis kekasihnya dulu. Kabarnya gadis itu memutuskan hubungannya yang sudah berlangsung lama dengan Paman, lalu menikah dengan lelaki lain. Sejak itu hati Paman seperti membeku, tak bisa tersentuh kehadiran perempuan lain.<br />
     Sesungguhnya aku tak mengerti mengapa Paman masih mencintai bekas kekasihnya itu. Paman Julian adalah seorang lelaki berperasaan halus. Dia tak pernah menyakiti hati orang lain. Bahkan kepada binatangpun ia sayang. Pernah aku hendak membunuh seekor ular yang masuk ke dalam rumah dan membuat seisi rumah ketakutan. Ketika mengetahui itu Paman Julian yang saat itu sedang pulang ke Lampung langsung melarang. “Jangan dibunuh, Henry. Kasihan, lebih baik diusir saja,” katanya. Lalu dengan sebilah bambu akhirnya Paman Julian sendiri yang menggiring pergi ular itu.<br />
     Lalu bagaimana bisa ada perempuan yang sampai hati melukai hati lelaki berperasaan halus itu? Bagiku tak ada lain perempuan itu tentulah perempuan tak berperasaan yang semestinya tak layak mendapatkan cinta dari seorang lelaki sebaik Paman Julian.<br />
***<br />
     Sudah satu minggu aku di rumah Paman Julian. Kegiatanku sehari-hari tak banyak. Tujuanku ke Magelang memang hanya untuk berlibur. Kadang aku mengisi waktu dengan melihat-lihat Paman melukis, atau ikut Paman ke Yogya mengantarkan sebagian karya lukisnya untuk dititipkan pada beberapa galeri di sana. Kadang aku menemani Pak Seno, orang yang dipercaya Paman menjaga galerinya. Saat-saat itulah aku berkesempatan untuk menambah wawasan tentang seni lukis.<br />
     Saat lain jika cuaca tampak menyenangkan aku memilih bersepeda melihat suasana kota. Magelang bukan kota besar, dalam beberapa hari saja rasanya aku sudah melihat seluruh sudut kota. Kupikir Paman Julian tak salah memilih kota ini sebagai tempat tinggalnya. Magelang yang sejuk, hijau, dan tak terlalu ramai, memang cocok untuk orang yang menyukai ketenangan seperti Paman Julian.<br />
     Namun yang sangat berkesan bagiku adalah ketika aku diajak Paman menjenguk kebun jagungnya. Kebun itu luas, memanjang dari selatan ke utara. Paman membayar beberapa orang pekerja untuk mengolah kebun itu. Namun begitu terkadang Paman ikut juga menanganinya. Hal itu diperlihatkannya hari itu ketika aku ikut ke kebunnya. Aku takjub, Paman Julian yang sudah lama meninggalkan kampung halaman ternyata tidak lupa pada pekerjaan tani yang dulu pernah diakrabinya. Ia tak segan tangannya kotor karena bergelut dengan tanah dan rumput-rumput liar.<br />
     “Paman, mengapa Paman masih mengerjakan pekerjaan yang kotor-kotor itu?. Bukankah Paman sudah membayar orang untuk mengerjakannya?” tegurku ketika Paman Julian sedang membersihkan rumput-rumput liar.<br />
     Paman Julian tersenyum menyeringai.  “Paman ini anak petani, Henry. Darah yang mengalir di tubuh Paman ini darah petani. Paman bisa mati kalau tidak bekerja seperti ini,” sahutnya seraya menunjukkan tangannya yang kotor oleh tanah.<br />
     Aku menggeleng-geleng kagum. Lalu seolah bisa membaca pikiranku Paman Julian berkata, “Sudahlah, Henry, dari pada kau heran melihat pamanmu ini, lebih baik kau petiklah buah jagung secukupnya. Kita akan bikin jagung bakar di rumah nanti. Setuju, Henry?” ia melemparkan senyum kocaknya kepadaku, lalu setelah menggeleng-geleng sebentar ia kembali meneruskan pekerjaannya.<br />
     Paman Julian tampak menikmati pekerjaannya itu. Dengan kaus oblong putih yang melekat di badannya, dan celana panjang yang dilipatnya sampai ke lutut, Paman betul-betul mirip seorang petani. Petani yang intelek.<br />
     Tiba-tiba saat itu aku merasa terharu melihat Paman Julian. Seharusnya untuk seorang lelaki seperti dia ada seorang perempuan yang mendampingi. Perempuan itu seharusnya ada untuk mengurus dan merawat Paman. Perempuan itu seharusnya ada untuk tempat Paman mengadu, berkeluh kesah, dan berbagi kegembiraan. Perempuan itu mestilah seorang yang lembut dan penyayang, yang mau setia mendampingi Paman walau apapun yang terjadi.<br />
     Tetapi perempuan itu tidak ada. Satu-satunya kekasih yang diharapkannya pergi meninggalkannya entah ke mana. Dan aku melihat Paman Julian seperti pengembara kesepian, yang mencoba tetap beriang hati meski jalan kehidupan yang dilaluinya teramat sunyi.<br />
***<br />
     Pada suatu hari, aku sedang termangu memandangi lukisan-lukisan perempuan Paman. Pak Seno telah memberitahuku bahwa lukisan-lukisan itu adalah koleksi kesayangan Paman. Menurut keterangannya banyak yang tertarik ingin membeli lukisan-lukisan itu, namun Paman menyatakan lukisan-lukisan itu tidak untuk dijual. Pak Seno juga bercerita bahwa Paman mengerjakan semua lukisan itu tanpa menggunakan model. Artinya dalam mengerjakan lukisan-lukisan itu Paman Julian seperti hanya tinggal memindahkan ke atas kanvas sebuah citra yang sebelumnya terpatri jelas di dalam benaknya. Aku jadi bertanya-tanya dalam hati, “Apakah ini perempuan bekas kekasih Paman itu? Apakah ini perempuan yang telah menyebabkan Paman Julian memilih hidup dalam kesendirian itu?”<br />
     Aku tenggelam dalam pikiranku sendiri sehingga tak sadar Paman Julian sudah beberapa saat hadir di situ memperhatikanku.<br />
     “Kau menyukai lukisan itu, Henry?” kudengar suara Paman tiba-tiba.<br />
     Agak gagap aku mengangkat bahu. “Entahlah, Paman, Henry tak tahu,” kataku.<br />
     Paman Julian tertawa renyah. Ia berjalan mendekatiku, lalu matanya memandang lukisan yang berada tepat di depan kami.<br />
     “Namanya Titi, Henry,” ujarnya pelan, setelah sejenak hanya memandangi lukisan itu. “Dia dulu kekasih Paman. Tapi kemudian dia kawin dengan orang lain. Anaknya sudah tiga sekarang, sudah besar-besar.”<br />
     Aku menahan napas, terkejut oleh pernyataan Paman yang tak kusangka-sangka itu. Aku betul-betul tak mengira Paman akan bercerita perihal bekas kekasihnya itu. Hal ini segera menimbulkan keberanian dalam diriku untuk mengetahuinya lebih jauh.<br />
     “Paman masih mencintainya?” tanyaku.<br />
     Paman Julian tersenyum tipis. “Cuma dia yang bisa membuat Paman jatuh cinta,” ujarnya seperti menggumam.<br />
     “Paman, mengapa Paman masih mencintainya? Bukankah dia telah menghianati Paman?” kataku, tak dapat lagi aku menahan rasa penasaran yang telah lama mengganjal di hati itu.<br />
     Paman Julian tercenung memandangku. Ditatapnya aku seolah mencari-cari pikiran apa yang berkecamuk di benakku.<br />
     “Dia tak seperti yang kau pikirkan, Henry,” ujarnya kemudian, pelan.<br />
     “Tapi kenyataannya dia memang menghianati Paman. Dia meninggalkan Paman untuk kawin dengan lelaki lain. Paman, perempuan seperti itu tak layak Paman cintai.”<br />
     “Henry!” Paman memandangku tajam, “Paman tak suka kau berbicara seperti itu tentang dia.”<br />
     “Tapi Henry hanya mengatakan yang sebenarnya, Paman. Bukankah dia yang telah menyebabkan Paman hidup kesepian seperti sekarang ini? Tanpa istri. Tanpa anak. Paman belum beristri hingga sekarang ini karena dia, bukan? Mengapa Paman masih saja memikirkannya?”<br />
     “Henry, jangan kau teruskan kata-katamu itu.”<br />
     “Paman..”<br />
     “Cukup, Henry! Cukup!” wajah Paman tampak merah. Matanya menghujam dalam-dalam ke wajahku. “Apa yang kau pikirkan tentang Pamanmu ini, Henry? Apa kau anggap Pamanmu ini seorang lelaki kalah yang hidup dalam impian-impian semu? Begitukah yang kau pikir, Henry?” suara Paman bergetar menusuk-nusuk telingaku.<br />
     Aku tersentak. Belum pernah aku melihat Paman marah seperti ini.<br />
     Tiba-tiba aku tersadar aku telah berbuat terlalu jauh. Aku telah melukai hati Paman Julian. Saat itu juga aku langsung tertunduk, tak mampu lagi menentang mata Paman itu.<br />
     Paman Julian menghela napas panjang-panjang. Lalu dijatuhkannya tubuhnya di kursi. “Kau salah sangka, Henry. Kau salah sangka,” ujarnya.<br />
     Gagap aku, tak tahu harus berbuat apa.<br />
     Lalu dengan suara pelan Pamanpun menceritakan hubungannya dulu dengan perempuan kekasihnya itu. Tentang bagaimana mereka dulu saling mencintai. Hingga suatu hari, ia datang menemui orang tua Titi di Solo. Mereka ternyata menolaknya.<br />
     Orang tua Titi rupanya masih berpandangan kolot, sebab diam-diam mereka ternyata sudah mempunyai calon untuk menjadi suami Titi. Dan kedatangan Paman akhirnya mempercepat rencana pernikahan yang sudah mereka siapkan. Titi yang tak menyangka dirinya sudah dijodohkan berusaha melawan waktu itu. Tapi keadaan ibunya yang sakit-sakitan akhirnya membuat Titi menyerah.<br />
     “Paman sudah berusaha melupakan Titi, Henry. Tapi Paman tidak bisa. Dan Paman juga tidak bisa jatuh cinta lagi pada perempuan lain. Lalu apakah Paman harus kawin dengan seorang perempuan yang tidak Paman cintai? Dan apakah Paman harus memaksa diri menyingkirkan Titi dari hidup Paman meski Paman tak bisa melupakannya?”<br />
     Aku terdiam kaku mendengar cerita paman. Bibirku terasa beku. Dan tiba-tiba aku merasa bagai orang paling bodoh di dunia. Apa yang kudapat dengan menuduh Paman Julian adalah lelaki cengeng yang hidup dalam mimpi-mimpi semu? Apakah kebahagiaan itu sesungguhnya? Apakah benar kebahagiaan seorang lelaki adalah jika ia memiliki istri dan anak-anak yang menemani hidupnya? Apakah benar seorang lelaki yang tak memiliki istri atau anak berarti kehidupannya tak bahagia?<br />
     Siang itu Paman pergi. Malam ia baru pulang. Wajahnya masih tampak murung. Ia langsung masuk ke kamar kerjanya.<br />
     Setelah agak lama, aku memutuskan menemui Paman untuk meminta maaf. Tapi kemudian langkahku terhenti di muka pintu. Kulihat saat itu Paman tengah asyik melukis. Paman melukis Titi. Sebuah lukisan wajah.<br />
     Paman tampak begitu bersemangat melukis. Ketika lukisan itu selesai Paman termenung lama memandanginya. Lalu kulihat Paman menghela napas panjang-panjang, dan beberapa kali matanya mengerjap-ngerjap.<br />
                *****<br />
                                  Telukbetung, Juli 2006<!--more--></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/serasan2a.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/serasan2a.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/serasan2a.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/serasan2a.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/serasan2a.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/serasan2a.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/serasan2a.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/serasan2a.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/serasan2a.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/serasan2a.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/serasan2a.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/serasan2a.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/serasan2a.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/serasan2a.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serasan2a.wordpress.com&amp;blog=4257750&amp;post=3&amp;subd=serasan2a&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serasan2a.wordpress.com/2009/10/22/paman-julian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f56338c61570e3ae257c7eb7ca5c07b8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ahmad</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
