Dari jauh Bukit Siamang yang berada agak di pinggir kota itu tampak seperti terbelah. Dari dekat ternyata belahan itu adalah sebuah jalan sangat lebar yang sengaja dibangun untuk kendaraan naik ke atas. Dua buah buldoser telah bekerja berminggu-minggu membangun jalan itu. Rencananya di atas bukit itu akan dibangun sebuah komplek perumahan elit termahal di kota. Awalnya ramai di surat kabar orang berkomentar soal proyek itu. Selain akan merusak keindahan, proyek itu juga akan merusak ekosistem kota. Banyak yang meminta agar proyek itu tidak dilanjutkan. Bahkan anggota dewan berjanji akan menyelidiki masalah itu. Tetapi itu cerita di atas-atas. Yang merasakan langsung dampak proyek itu adalah warga Tanjung, sebuah kampung yang terletak di kaki bukit itu.
***
Mula-mula adalah suara bising mesin buldoser yang bekerja siang malam. Suara itu terasa begitu mengganggu kalau malam tiba, saatnya orang beranjak tidur. Tapi saat itu warga hanya bisa menggerutu. Persoalan itu masih dianggap sepele untuk dipersoalkan.
Persoalan menjadi lain setelah beberapa bulan proyek berjalan air sumur umum yang digunakan warga untuk keperluan sehari-hari perlahan berubah warna. Air yang biasanya berwarna bening itu kini berubah menjadi putih susu, dan bila hujan turun warnanya berubah coklat. Kali ini warga mulai marah. Ada yang mengajak beramai-ramai ke atas memblokir lokasi proyek. Ada pula yang mengajak berunjuk rasa ke walikota menuntut agar proyek itu dihentikan. Di antara yang bersuara paling keras adalah Pak Kohar. Ia mengajak warga untuk memperjuangkan hak-hak mereka yang telah dirugikan. Tapi ia juga mengingatkan agar warga berhati-hati. “Proyek itu proyek besar, pasti dibeking pejabat dan aparat,” kata Pak Kohar, dalam rapat yang diadakan warga. Panjang lebar ia menjelaskan semua yang diketahuinya tentang proyek itu. Singkatnya, dari pada melawan hasilnya sia-sia, lebih baik berunding untuk meminta ganti rugi.
Pak Kohar yang calo tanah itu amat pandai berbicara. Warga akhirnya menerima usul Pak Kohar. Mereka sepakat untuk menuntut perusahaan yang menjalankan proyek itu agar menyediakan instalasi air bersih sebagai pengganti sumur umum yang rusak. Selain itu mereka juga ingin agar dibangun saluran air yang mengarah ke sisi lain bukit, sehingga bila turun hujan deras kampung mereka akan terlindung dari ancaman banjir.
Tuntutan itu lalu diajukan ke perusahaan esok harinya. Pak Kohar yang datang bertemu langsung dengan sang bos. Entah bagaimana cara Pak Kohar berunding, ketika pulang ia melaporkan perusahaan bersedia memenuhi tuntutan warga. Tak lupa ia menghimbau warga agar tak resah lagi karena tuntutan mereka telah disetujui.
Warga lega. Tapi kelegaan itu rupanya tak berlangsung lama. Mereka kecewa, instalasi air sudah dibangun tapi saluran air tidak. Ketika hal itu ditanyakan kepada Pak Kohar ia menjawab, saluran air itu sedang dicari di mana lokasinya yang tepat. “Bukan tidak dibangun, tapi belum dibangun. Tunggu saja,” begitu kata Pak Kohar menjelaskan.
***
Sebenarnya banyak warga yang merasa kehilangan ketika Bukit Siamang digusur. Bukit yang luas itu adalah tempat warga biasa berekreasi melepas penat pikiran. Anak-anak amat senang naik ke bukit itu. Di situ mereka dapat mencari buah-buahan, mangga, pisang, rambutan, dan jambu mede. Sembari makan buah-buahan mereka beristirahat menikmati pemandangan. Pemandangan dari atas bukit itu memang indah. Dari bukit itu orang bisa memandang jauh ke penjuru kota. Sementara pada salah satu sisinya laut biru teluk kota itu terbentang indah. Tetapi pemandangan indah itulah yang kini menjadi sebab bukit itu digusur. Ada pengusaha berotak jeli yang melihat bukit itu tak lain adalah uang. Perumahan yang dibangun di bukit itu pasti laku dijual. Sementara hancuran batu, pasir dan tanah hasil penggusuran dapat digunakan untuk mereklamasi pantai. Dan lahan hasil reklamasi itupun nantinya pasti laku dijual. Begitulah bagaimana uang bekerja merusak bukit itu. Dan yang menjadi korban adalah warga Tanjung.
***
Ketika saluran air tak juga dibangun warga menjadi resah. Musim hujan akan segera tiba, dan proyek di bukit itu bisa membawa bencana. Sementara Pak Kohar yang dulu keras kini sikapnya tampak berubah. Setiap kali warga bertanya soal saluran air ia selalu meminta warga bersabar. Warga merasa curiga pada Pak Kohar. Ada kabar Pak Kohar kini ikut bekerja di proyek itu. Keresahan warga terbukti. Saat hujan pertama di musim itu turun dengan derasnya Kampung Tanjung dilanda banjir. Gundukan pasir di atas bukit longsor. Longsoran itu memenuhi selokan air di kaki bukit. Air yang tak tertampung lalu keluar memasuki rumah-rumah warga. Air itu berwarna coklat mengandung lumpur. Kali ini amarah warga tak dapat ditahan. Warga yang sebagian besar anak-anak muda beramai-ramai naik ke atas setelah hujan berhenti.
Tetapi warga terkejut, di atas di depan kantor pengawas sejumlah aparat bersenjata sudah siap berjaga-jaga. Perusahaan tampaknya punya mata-mata di Kampung Tanjung. Pimpinan para aparat itu memperingatkan warga agar tidak bertindak anarkis. Mereka tak ragu akan bersikap tegas.
“Bapak-bapak jangan membela pengusaha. Apakah Bapak tidak meihat kampung kami kebanjiran,” kata Bondan, anak muda yang memimpin warga.
“Kami tidak membela siapa-siapa. Kami hanya menjaga supaya tidak terjadi perusakan,” jawab pimpinan aparat.
“Jadi Bapak menuduh kami merusak? Perusahaan inilah yang merusak. Perusahaan merusak bukit ini. Perusahaan merusak kampung kami. Kami hanya meminta pertanggungjawaban.”
Bondan, anak muda yang memimpin warga Tanjung itu memang dikenal pemberani. Ketika yang lain hilang keberaniannya setelah melihat aparat bersenjata itu, Bondan dengan gagah tetap melawan. Dengan nada tinggi ia memaki-maki perusahaan yang sudah merusak bukit itu.
Salah seorang karyawan perusahaan datang mendekati Bondan. Bersama pimpinan aparat mereka berbicara sebentar. Mereka lalu menuju kantor pengawas. Ketika keluar Bondan menjelaskan besok ia akan bertemu dengan pemilik perusahaan untuk berunding soal saluran air itu. Lalu ia mengajak warga turun. Warga akhirnya beramai-ramai turun, meski hati mereka belum merasa puas.
***
Begitulah selalu terjadi. Warga sebenarnya tak pernah puas dengan proyek itu. Proyek di bukit itu menghadirkan banyak masalah bagi warga. Satu masalah selesai muncul masalah baru. Dan yang menyesakkan setiap masalah baru melahirkan pahlawan-pahlawan baru, yang para pahlawan itu kemudian berubah menjadi penghianat baru.
Sama seperti Pak Kohar, Bondanpun kemudian berubah sikap menjadi layaknya juru bicara proyek. Sikapnya yang dahulu garang kemudian entah hilang ke mana. Setiap kali muncul keluhan baru ia selalu minta agar warga bersabar. Dijelaskannya bagaimana mungkin melawan perusahaan yang jelas-jelas dilindungi aparat itu. “Nyawa kita taruhannya,” katanya menggambarkan besarnya resiko yang dihadapi.
Pada akhirnya warga lelah. Beberapa tokoh yang punya pengaruh sudah pula dibeli. Setiap bulan mereka memperoleh upeti dari perusahaan. Para tokoh itu lalu menjadi jubir-jubir baru. Tersebar di masyarakat perusahaan akan memberikan bantuan untuk sarana ibadah dan sarana olah raga bagi pemuda. Juga janji pekerjaan diberikan kepada para pemuda jika komplek perumahan itu sudah selesai dibangun. Ketika masalah-masalah baru bermunculan warga sudah malas mengurusnya. Yang menjadi musuh kini bukan lagi perusahaan, tetapi sesama warga sendiri, tetangga mereka sendiri. Begitulah yang terjadi di Kampung Tanjung.
Sama seperti Pak Kohar, Bondanpun kemudian berubah sikap menjadi layaknya juru bicara proyek. Sikapnya yang dahulu garang kemudian entah hilang ke mana. Setiap kali muncul keluhan baru ia selalu minta agar warga bersabar. Dijelaskannya bagaimana mungkin melawan perusahaan yang jelas-jelas dilindungi aparat itu. “Nyawa kita taruhannya,” katanya menggambarkan besarnya resiko yang dihadapi.
Pada akhirnya warga lelah. Beberapa tokoh yang punya pengaruh sudah pula dibeli. Setiap bulan mereka memperoleh upeti dari perusahaan. Para tokoh itu lalu menjadi jubir-jubir baru. Tersebar di masyarakat perusahaan akan memberikan bantuan untuk sarana ibadah dan sarana olah raga bagi pemuda. Juga janji pekerjaan diberikan kepada para pemuda jika komplek perumahan itu sudah selesai dibangun. Ketika masalah-masalah baru bermunculan warga sudah malas mengurusnya. Yang menjadi musuh kini bukan lagi perusahaan, tetapi sesama warga sendiri, tetangga mereka sendiri. Begitulah yang terjadi di Kampung Tanjung.
***
Bukit itu dinamakan Bukit Siamang karena dahulu bukit itu merupakan tempat hidup siamang. Menurut orang-orang tua dulu siamang di bukit itu ibarat buah-buahan di pohon, saking banyaknya. Kalau siamang-siamang itu sedang berteriak-teriak ributnya bukan main. Di bukit itulah buldoser-buldoser terus bekerja merangsek ke sana-sini. Bertahun-tahun buldoser itu bekerja menghancurkan bebatuan meratakan bukit. Hancuran batu, pasir dan tanah yang dihasilkan lalu diangkut oleh puluhan truk untuk keperluan reklamasi. Jika hujan turun truk-truk itu meninggalkan bekas lumpur pada sepanjang jalan yang dilaluinya. Pengendara sepeda motor harus berhati-hati karena lumpur itu licin. Jika cuaca panas para pengendara itupun tetap harus berhati-hati. Panas mengubah lumpur jadi debu. Pengendara motor harus menjaga matanya agar tak kemasukan debu.
Setelah berjalan lima tahun proyek pembangunan perumahan itu akhirnya selesai. Dari jauh bukit itu kini terlihat cantik, tak tampak lagi bekas-bekas penggusuran. Kalau kita naik ke atas kita akan melihat sebuah komplek perumahan mewah bernama Kemang Hill Residence. Di komplek itu juga dibangun hotel, rumah makan dan cafe yang menghadap ke laut. Nama Kemang adalah perubahan dari kata Siamang. Tetapi warga Kampung Tanjung dengan sinis menyebut komplek perumahan itu sebagai Siamang Residence.
Karena dinilai tidak memenuhi syarat akhirnya hanya beberapa orang warga Kampung Tanjung yang diterima sebagai pekerja di komplek perumahan itu. Di antaranya adalah Pak Kohar dan Bondan. Tiap hari warga melihat Pak Kohar dan Bondan berangkat kerja. Kalau mereka lewat orang-orang berbisik, ”Karyawan Siamang lewat, karyawan Siamang lewat.” Siamang ribut kalau lapar. Kalau sudah kenyang ia akan diam.
Setelah berjalan lima tahun proyek pembangunan perumahan itu akhirnya selesai. Dari jauh bukit itu kini terlihat cantik, tak tampak lagi bekas-bekas penggusuran. Kalau kita naik ke atas kita akan melihat sebuah komplek perumahan mewah bernama Kemang Hill Residence. Di komplek itu juga dibangun hotel, rumah makan dan cafe yang menghadap ke laut. Nama Kemang adalah perubahan dari kata Siamang. Tetapi warga Kampung Tanjung dengan sinis menyebut komplek perumahan itu sebagai Siamang Residence.
Karena dinilai tidak memenuhi syarat akhirnya hanya beberapa orang warga Kampung Tanjung yang diterima sebagai pekerja di komplek perumahan itu. Di antaranya adalah Pak Kohar dan Bondan. Tiap hari warga melihat Pak Kohar dan Bondan berangkat kerja. Kalau mereka lewat orang-orang berbisik, ”Karyawan Siamang lewat, karyawan Siamang lewat.” Siamang ribut kalau lapar. Kalau sudah kenyang ia akan diam.
*****
Ahmad, November 2009